NAMA:MUHAMMAD VIRGI KADARUSMAN
KELAS:1KA06
NPM:14115817
Judul
“Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan” memberi petunjuk adanya sesuatu
yang inheren, mungkin permasalahannya ialah adanya kontinuitas dan perubahan,
harmoni atau disharmoni.
“Ilmu Pengetahuan” lazim digunakan dalam pengertian sehari-hari, terdiri dari
dua kata, “ilmu” dan “pengetahuan”, yang masing-masing mempunyai identitas
sendiri-sendiri.
Oleh
J.P. Farrier, dalam Institutes of metaphisics (1854), pemikiran tentang teori
pengetahuan itu disebut “epistemologi” (epistem = pengetahuan, logos =
pembicaraan/ilmu).
Keperluan sekarang adalah pengetahuan ilmiah yang harus ditingkatkan karena
pengetahuan, perbuatan, ilmu, dan etika makin saling bertautan.
Teknologi dalam penerapannya sebagai jalur utama yang dapat menyongsong masa
depan cerah, kepercayaannya sudah mendalam.
Teknologi
selain mempermudah kehidupan manusia, mempunyai dampak sosial yang sering lebih
penting artinya dari pada kehebatan teknologi itu sendiri.
Schumacher, dalam Kecil itu Indah, dunia modern yang dibentuk oleh teknologi
menghadapi tiga krisis sekaligus. Pertama, sifat kemanusiaan berontak terhadap
pola-pola politik, organisasi, dan teknologi yang tidak berperikemanusiaan,
yang terasa menyesakan napas dan melemahkan badan.
Kedua, lingkungan hidup menderita dan menunjukkan tanda-tanda setengah binasa.
Ketiga, penggunaan sumber daya yang tidak dapat dipulihkan, seperti bahan
bakar, fosil, sedemikian rupa sehingga akan terjadi kekurangan sumber daya alam
tersebut.
Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai perjuangan
yang akan memperoleh kemerdekaan bangsa dan motivasi fundamental dari cita-cita
menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan merupakan bagian-bagian yang tidak
dapat dibebaskan dan dipisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi,
interelasi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya).
1)
Ilmu Pengetahuan
Pengertian pengetahuan sebagai istilah filsafat tidaklah sederhana karena
bermacam-macam pandangan dan teori (epistemologi), diantaranya pandangan
Aristoteles, bahwa pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan
dapat merangsang budi. Menurut Decartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi;
oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin;
menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan
pengalaman; dan teori Phyroo mengatakan, bahwa tidak ada kepastian dalam
pengetahuan.
Banyaknya teori dan pendapat tentang pengetahuan dan kebenaran mengakibatkan
suatu definisi ilmu pengetahuan akan mengalami kesulitan. Sebab, membuat suatu
definisi dari definisi ilmu pengetahuan yang dikalangan ilmuwan sendiri sudah
ada keseragaman pendapat, hanya akan terperangkap dalam tautologies
(pengulangan tanpa membuat kejelasan) dan pleonasme atau mubazir saja.
Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan objektif diperlukan sikap yang
bersifat ilmiah. Sikap yang bersifat ilmiah itu meliputi empat hal :
a.
Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga mencapai pengetahuan ilmiah
yang objektif.
b.
Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya
didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis
yang ada.
c.
Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap
alat indera dan budi yang digunakan untuk mencapai ilmu.
d.
Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori, maupun aksioma terdahulu telah
mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.
2)
Teknologi
Dalam konsep yang pragmatis dengan kemungkinan berlaku secara akademis dapatlah
dikatakan, bahwa ilmu pengetahuan ( body of knowledge ), dan teknologi sebagai
suatu seni ( state of art ) yang mengandung pengertian berhubungan dengan
proses produksi; menyangkut cara bagaimana berbagai sumber, tanah, modal,
tenaga kerja dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasi tujuan produksi.
Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal
dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup
teknis.
Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Sastrapratedja ( 1980 ) memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Rasionalitas, artinya tindakan spontak oleh teknik diubah menjadi tindakan yang
direncanakan dengan perhitungan rasional.
b.
Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah.
c.
Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba
otomatis.
d.
Teknis berkembang pada suatu kebudayaan.
e.
Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling
bergantung.
f.
Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi,
bahkan dapat menguasai kebudayaan.
g.
Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.
Luasnya bidang teknik, digambarkan oleh Ellul sebagai berikut :
1.
Teknik meliputi bidang ekonomi, artinya teknik mampu menghasilkan barang-barang
industri.
2.
Teknik meliputi bidang organisasi seperti administrasi, pemerintahan,
manajemen, hukum dan militer.
3.
Teknik meliputi bidang manusiawi, seperti pendidikan, kerja, olahraga, hiburan
dan obat-obatan.
Teknik-teknik manusiawi yang dirasakan pada masyarakat teknologi, terlihat dari
kondisi kehidupan manusia itu sendiri.
Dampak teknik itu sendiri bagi manusia sudah dirasakan dan fenomenanya nampak.
Seperti, anggapan para ahli teknik bahwa manusia hanyalah mitos abstrak,
manusia mesin ( manusia mengadaptasikan diri kepada mesin ), penerapan teknik
memecah belah manusia ( tidak ada kesempatan mengembangkan kepribadiannya ),
timbul kemenangan pada alam tak sadar, simbol-simbol tradisional diganti dengan
teknik, terbentuknya manusia-massa ( gaya hidup dibentuk oleh iklan ) dan
nampak teknik sudah mendominasi kehidupan manusia secara menyeluruh.
Saat ini sudah dikonstantasi, bahwa negara-negara teknologi maju telah memasuki
tahap superindustrialisme, melalui inovasi teknologis tiga tahap :
a)
Ide kreatif
b)
Penerapan praktisnya
c)
Difusi atau penyebarluasan dalam masyarakat.
3)
Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Nilai
Penerapan ilmu pengetahuan khusunya teknologi sering kurang memperhatikan
masalah nilai, moral atau segi-segi manusiawinya.
Masalah nilai kaitannya dengan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, menyangkut
perdebatan sengit dalam menduduk perkarkan nilai dalam kaitannya dengan ilmu
dan teknologi. Sehingga kecenderungan sekarang ada dua pemikiran yaitu : yang
menyatakan ilmu bebas nilai dan yang menyatakan ilmu tidak bebas nilai.
Ilmu dapatlah dipandang sebagai produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma
etika ( Jujun S. Suriasumantri, 1984 ).
Apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, merupakan hasil
penalaran ( rasio ) secara objektif. Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh
dari hasil metode keilmuwan yang diakui secara umum dan universal sifatnya.
Istilah ilmu di atas, berbeda dengan istilah pengetahuan. Ilmu adalah diperoleh
melalui kegiatan metode ilmiah atau epistemologi. Jadi, epistemologi merupakan
pembahasan bagaimana mendapatka pengetahuan. Metode ilmiah adalah kegiatan
menyusun tubuh pengetahuan yang bersifat logis, penjabaran hipotesis dengan
deduksi dan verifikasi atau menguji kebenarannya secara faktual; Sehingga
kegiatannya disingkat menjadi logis-hipotesis-verifikasi atau
deduksi-hipotesis-verifikasi. Sedangkan pengetahuan adalah pikiran atau
pemahaman di luar atau tanpa kegiatan metode ilmiah, sifatnya dapat dogmatis,
banyak spekulasi dan tidak berpijak pada kenyataan empiris.
Ilmu pengetahuan pada dasarnya memiliki tiga komponen penyangga tubuh
pengetahuan yang disusunnya yaitu : ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Epistemologis seperti diuraikan di muka, hanyalah merupakan cara bagaimana
materi pengetahuan diperoleh dan disusun menjadi tubuh pengetahuan. Ontologis
dapat diartikan hakikat apa yang dikaji oleh pengetahuan, sehingga jelas
ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahannya. Komponen Aksiologis
adalah asas menggunakan ilmu pengetahuan atau fungsi dari ilmu pengetahuan.
Komponen ontologis kegiatannya adalah menafsirkan hikayat realitas yang ada,
sebagaimana adanya ( das sein ), melalui desuksi-desuksi yang dapat diuju
secara fisik.
Komponen epistemologis berkaitan dengan nilai atau moral pada saat proses
logis-hipotesis-verifikasi.
Komponen aksiologis artinya lebih lengket dengan nilai atau moral, di mana ilmu
harus digunakan dan dimanfaatkan demi kemaslahatan manusia.
Pembicaraan selanjutnya adalah kaitan teknologi dan nilai. Namun sebelumnya,
perlu menelusuri kaitan ilmu dan teknologi sebelum memahami kaitan teknologi
dan nilai. Seperti kita maklumi, selain ilmu dasar ada juga ilmu terapan.
Tujuan ilmu terapan ini adalah untuk membantu manusia dalam memecahkan
masalah-masalah praktis, sekaligus memenuhi kebutuhannya.
Kaitan ilmu dan teknologi dengan nilai atau moral, berasal dari ekses penerapan
ilmu dan teknologi sendiri. Dalam hal ini sikap ilmuwan dibagi menjadi dua
golongan :
1)
Golongan yang menyatakan ilmu dan teknologi adalah bersiat netral terhadap
nilai-nilai baik secara ontologism maupun secara aksiologis, soal penggunaannya
terserah kepada si ilmuwan itu sendiri, apakah digunakan untuk tujuan baik atau
tujuan buruk.
2)
Golongan yang menyatakan bahwa ilmu dan teknologi itu bersifat netral hanya
dalam batas-batas metafisik keilmuwan, sedangkan dalam penggunaan dan
penelitiannya harus berlandaskan pada asas-asas moral atau nilai-nilai,
golongan ini berasumsi bahwa ilmuwan telah mengetahui ekses-ekses yang terjadi
apabila ilmu dan teknologi disalahgunakan.
Rangkaian pengembangan ilmu dan teknologi yang dimulai dengan : penelitian
dasar, penelitian terapan, pengembangan teknologi dan penerapan teknologi, mau
tidak mau harus dilanjutkan dengan evaluasi ethis-politis-religius.
4)
Kemiskinan
Kemiskinan lazimnya
dilukiskan sebagai kurangnya pendapat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang
pokok, dikatakan berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak
cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian,
tempat berteduh, dll.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan
untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal :
1.
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
2.
Posisi manusia dalam lingkungan sekitar
3.
Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan di pengaruhi oleh
tingkat pendidikan, adat-istiadat, dan sistem nilai yang dimiliki. Dalam hal
ini garis kemiskinan dapat tinggi atau rendah. Terhadap posisi manusia dalam
lingkungan sosial, bukan ukuran kebutuhan pokok yang menentukan, melainkan
bagaimana posisi pendapatannya ditengah-tengah masyarakat sekitarnya. Kebutuhan
objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi ditentukan oleh komposisi
pangan apakah bernilai gizi cukup dengan nilai protein dan kalori cukup sesuai
dengan tingkat umur, jenis kelamin, sifat pekerjaan, keadaan iklim dan
lingkungan yang dialaminya.
Atas dasar ukuran ini maka mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Tidak memiliki faktor produksi sendiri seperti tanah, modal, keterampilan, dsb;
b.
Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan
sendiri, seperti untuk memperoleh tanah garapan atau modal usaha;
c.
Tingkat pendidikan mereka rendah, tidak sampai tamat sekolah dasar karena harus
membantu orang tua mencari tambahan penghasilan;
d.
Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas ( self employed ), berusaha
apa saja;
e.
Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak mempunyai keterampilan.
Kemiskinan menurut orang lapangan ( umum ) dapat dikategorikan kedalam tiga
unsure :
1.
Kemiskinan yang disebabkan handicap badaniah ataupun mental seseorang.
2.
Kemiskinan yang disebabkan oleh bencana alam.
3.
Kemiskinan buatan.
Kalau kita menganut teori fungsionalis dari statifikasi ( tokohnya Davis ),
maka kemiskinanpun memiliki sejumlah fungsi yaitu :
1)
Fungsi ekonomi : Penyediaan tenaga untuk pekerjaan tertentu, menimbulkan dana
sosial, membuka lapangan kerja baru dan memanfaatkan barang bekas ( masyarakat
pemulung ).
2)
Fungsi sosial : Menimbulkan altruism ( kebaikan spontan ) dan perasaan, sumber
imajinasi kesulitan hidup bagi si kaya, sebagai ukuran kemajuan bagi kelas lain
dan merangsang munculnya badan amal.
3)
Fungsi kultural : Sumber inspirasi kebijaksanaan teknokrat dan sumber inspirasi
sastrawan dan memperkaya budaya saling mengayomi antar sesama manusia.
4)
Fungsi politik : berfungsi sebagai kelompok gelisah atau masyarakat marginal
untuk musuh bersaing bagi kelompok lain.





