NAMA: MUHAMMAD VIRGI KADARUSMAN
KELAS:1KA06
NPM:14115817
1. PERBEDAAN
PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
Sikap yang negatif terhadap sesuatu,
disebut prasangka. Walaupun dapat kita garis bawahi bahwa prasangka dapat juga
dalam pegertian positif. Tidak sedikit orang-orang yang mudah berprasangka,
namun banyak juga orang-orang yang lebih sukar untuk berprasangka.
Namun demikian belum jelas benar
ciri-ciri kepribadian mana yang membuat seseorang mudah berprasangka. Sementara
pendapat menyebutkan bahwa orang yang berintelekgensi tinggi, lebih sukar untuk
bersikap berprasangka. Mengapa? Karena orang-orang macam ini bersifat dan
bersiap kritis.
Dalam kondisi persaingan untuk
mencapai akumulasi materil tertentu, atau untuk meraih status sosial bagi suatu
individu atau kelompok sosial tertentu, pada suatu lingkungan/wilayah di mana
norma-norma dan tata hukum dalam kondisi goyah, dapat merangsang munculnya
prasangka dan diskriminasi dapat dibedakan dengan jelas. Prasangka bersumber
dari suatu sikap. Diskriminasi menunjuk kepada suatu tindakan.
Seseorang yang mempunyai prasangka
rasial. Biasanya bertindak diskriminasi terhadap ras yang diprasangkainya.
Walaupun begitu , biasa saja seseorang bertindak diskriminatif tanpa berlatar
belakang pada suatu prasangka.
Sikap berprasangka jelas tidak adil,
sebab sikap yang diambil hanya berdasarkan pada pengalaman atau apa yang didengar.
Lebih-lebih lagi bila sikap berprasangka itu muncul dari jalan pikiran
sepintas, untuk kemudian disimpulkan dan dibuat pukul rata sebagai sifat dari
seluruh anggota kelompok sosial tertentu. Apabila muncul suatu sikap
berprasangka dan diskriminatif terhadap kelompok sosial lain, atau terhadap
suatu suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi akan menimbulkan
pertentangan-pertentangan sosial yang lebih luas.
1.1 SEBAB-SEBAB
TIMBULNYA PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
(a) Berlatar
Belakang Sejarah
Orang kulit putih di Amerika Serikat
berprasangka negatif terhadap orang negro. Orang kulit putih beranggapan
bahwa orang negro adalah budak dan orang berkulit putih adalah Tuan rajanya.
(b) Dilatar
Belakangi Oleh Perkembangan Sosio – Kultural Dan Situasional
Suatu prasangka muncul dan
berkembang dari suatu individu terhadap individu lain, atau terhadap kelompok
sosial tertentu manakala terjadi penurunan status atau terjadi pemutusan
hubungan kerja.
(c) Bersumber
Dari Faktor Kepribadian
Keadaan frustasi dari orang ataupun
kelompok sosial tertentu dapat menimbulkan tingkah laku yang cukup agresif.
Tipe prasangka lebih dominan disebabkan karena sikap orang itu sendiri. Tipe
authoritarian personality adalah sebagai ciri kepribadian seseorang yang penuh
prasangka, dengan ciri-ciri bersifat konservatif dan bersifat tertutup.
(d) Berlatar
Belakang Dari Perbedaan Keyakinan, Kepercayaan Dan Agama
Bisa ditambah lagi dengan perbedaan
pandangan polotik, ekonomi dan ideologi. Prasangka yang berakar dari hal-hal
tersebut di atas dapat dikatakan sebagai suatu prasangka yang bersifat
universal.
1.2 DAYA UPAYA UNTUK
MENGURANGI/MENGHILANGKAN PRASANGKA DAN DISKRIMINASI
a. Perbaikan
kondisi sosial ekonomi
Pemerataan pembangunan dan usaha
peningkatan pendapat bagi warga negara indonesia yang masih tergolong di bawah
garis kemiskinan akan mengurangi adanya kesenjangan-kesenjangan sosial antara
si kaya dan si miskin.
b. Perluasan
kesempatan belajar
Adanya usaha-usaha pemerintah dalam
perluasan kesempatan belajar bagi seluruh warga negara indonesia, paling tidak
dapat mengurangi prasangka bahwa program pendidikan, terutama pendidikan tinggi
hanya dapat dinikmati oleh kalangan masyarakat menengah dan kalangan atas.
Mengapa? Untuk mencapai jenjang pendidikan tertentu di perguruan tinggi memang
mahal, disaping itu harus memiliki kemampuan otak dan modal.
c. Sikap
terbuka dan sikap lapang
Harus selalu kita sadari bahwa
berbagi tantangan yang datang dari luar ataupun yang datang dari dalam negri,
semuanya akan dapat merongrong keutuhan negara dan bangsa. Kebhinekaan
masyarakat berikut sejumlah niali yang melekat, merupakan basis empuk bagi timbulnya
prasangka, diskriminasi, dan keresahan.
2. Etnosentrisme
Etnosentrisme yaitu suatu
kecenderungan yang menganggap nilai-nilai dan norma-norma kebudayaannya sendiri
sebagaai sesuatu yang prima, terbaik, mutlak dan dipergunakannya sebagai
tolok ukur untuk menilai dan membedakannya dengan kebudayaan lain.
Etnosentrisme nampaknya merupakan
gejala sosial yang universal, dan sikap yang demikian biasanya dilakukan secara
tidak sadar. Dengan demikian etnosentrisme merupakan kecenderungan tak
sadar untuk menginterpretasikan atau menilai kelompok lain dengan tolok ukur
kebudayaannya sendiri. Sikap etnosentrisme dalam tingkah laku berkomunikasi
nampak canggung, tidak luwes.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar